PENGABDIAN MASYARAKAT

PELATIHAN DETEKSI DINI GANGGUAN PENDENGARAN PADA BAYI BARU LAHIR OLEH BIDAN DI KAWASAN SURABAYA

Gangguan pendengaran atau tuli sejak lahir dapat menyebabkan gangguan perkembangan bicara, bahasa, dan kognitif pada anak. Adanya keterlambatan dalam mendeteksi gangguan tersebut akan menjadikan hambatan yang dihadapi semakin besar, dimana di kemudian hari akan dihasilkan sumber daya manusia (SDM) yang tidak berkualitas.

Diagnosis gangguan pendengaran kongenital seringkali terlambat. Keterlambatan diagnosis pada tuli derajat sedang hingga berat dapat terjadi sampai usia 2,5 tahun. Hal ini disebabkan karena bayi/anak mampu memberi reaksi yang serupa dengan bayi dan anak normal terhadap bunyi – bunyian yang keras dan suara tawa. Pada anak yang menderita tuli berat bilateral hanya 49% orang tua yang mencurigai adanya gangguan pendengaran, sedangkan pada gangguan pendengaran ringan sampai sedang atau unilateral hanya 29%.

Dampak gangguan pendengaran dapat dicegah atau dibatasi bila gangguan pendengaran dikenali sejak awal melalui program deteksi dini. Stimulus auditori penting pada masa 6 bulan pertama kehidupan untuk menjamin perkembangan berbicara dan berbahasa. Gangguan pendengaran yang terdeteksi dini dapat memperoleh habilitasi yang memadai yang memungkinkan penderita dapat mencapai kemampuan komunikasi optimal sehingga dapat berinteraksi dengan lingkunganya dan  ikut serta dalam fasilitas pendidikan umum yang normal. Pasien dengan gangguan pendengaran yang terdeteksi awal kemudian mulai memperoleh intervensi pada usia kurang dari 6 bulan selain akan mempunyai kemampuan wicara yang lebih baik ternyata juga menunjukkan tampilan yang lebih baik selama masa pendidikannya di sekolah maupun produktivitasnya di lingkungan kerja dibandingkan pasien gangguan pendengaran yang terdeteksi lambat dan memperoleh intervensi pada usia lebih dari 6 bulan.

Peran bidan yang dominan dalam pertolongan persalinan normal dan sekaligus menjadi tenaga kesehatan yang menjalin kontak pertama kali dengan bayi menjadikan keberadaannya sangat potensial dalam program deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi baru lahir. Untuk itu, Program Studi Pendidikan Bidan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melakukan pengabdian masyarakat dengan mengusung tema “Seminar deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi baru pada bidan di kawasan Surabaya”. Seminar ini bertujuan untuk memberdayakan bidan agar dapat melakukan deteksi dini gangguan pendengaran pada bayi baru lahir sehingga dapat melakukan rujukan lebih awal.

Seminar yang dilaksanakan pada hari Jum’at, 4 Desember 2015 tersebut bertempat di Ruang Gramik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Seminar dibuka dengan sambutan dari Koordiantor Program Studi Pendidikan Bidan, Baksono Winardi, dr., Sp.OG(K) dan juga Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi Jawa Timur, Netti Herlina, S.Pd., M.Kes. Hadir sebagai pembicara adalah Dr. Nyilo Purnami, dr, Sp.THT-KL(K) dengan materi tentang anatomi dan fisiologi telinga serta perkembangan bicara dan bahasa pada bayi. Pembicara inti dalam acara tersebut yaitu Damayanti Soetjipto, dr, Sp.THT-KL(K) yang merupakan ketua Komnas PGPKT nasional membuat 60 orang bidan tersebut semakin antusias. Dokter Damayanti menyampaikan tentang deteksi, intervensi dini, dan rujukan pada gangguan pendengaran yang diikuti dengan pemutaran video dan simulasi. Sebagai pembicara terakhir, Ivon Diah Wittiarika, S.Keb. Bd, M.Kes. yang juga merupakan staf pengajar di Program Studi Pendidikan Bidan FKUA menyampaikan tentang Asuhan pada bayi baru lahir dengan gangguan pendengaran. Seluruh acara diikuti dengan partisipasi aktif dari peserta yang terlihat dari antuasiasme dalam memberikan pertanyaan dan hasil post test yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan. Penutupan acara semakin meriah dengan adanya pembagian doorprize dan buku gratis tentang deteksi dini oleh dokter Damayanti.

Pelatihan Optimalisasi Buku KIA Sebagai Acuan Stimulasi Perkembangan Balita : Kontribusi PSPB dalam Meningkatkan Kesehatan Masyarakat

Lebih dari dua dekade, diketahui bahwa masalah developmental, behavioral, dan psikososial merupakan “new morbidity”. Masalah ini disebabkan oleh adanya perubahan pesat di bidang kesehatan anak dan tingginya prevalensi anak yang mengalami masalah perkembangan. Stimulasi yang terarah dan teratur yang optimal hanya dapat diberikan oleh orang tua atau pengasuh anak, bukan oleh tenaga kesehatan saat anak berkunjung ke pelayanan kesehatan, karena orang tua atau pengasuh dapat memberikan stimulasi setiap waktu. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang akan memberikan pijakan dasar bagi perkembangan anak, tetapi karena faktor kekurangpahaman, kesibukan, dan yang lainnya banyak orang tua yang melalaikan tahun–tahun penting pertama dalam kehidupan anak.

Saat ini, terdapat sarana mudah yang dapat digunakan orang tua atau pengasuh anak untuk memberikan stimulasi sesuai dengan umur anak, sarana itu antara lain buku KIA (Kesehatan Ibu Anak). Jumlah kepemilikan buku KIA ini cukup tinggi, namun dibutuhkan kesadaran dan pengetahuan dari masyarakat sehingga buku KIA dapat dimanfaatkan secara optimal. Pemanfaatan buku KIA tidak hanya terfokus pada penggunaannya sebagai acuan untuk pemantauan pertumbuhan anak, tetapi juga sebagai acuan stimulasi perkembangan.

Program Studi Pendidikan Bidan Unair bekerja sama dengan Puskesmas Kedungdoro Surabaya melakukan serangkaian kegiatan “Pelatihan Optimalisasi Buku KIA Sebagai Acuan Stimulasi Perkembangan Balita”, berupa :

  • Revitalisasi kader tentang pemanfaatan buku KIA sebagai acuan stimulasi perkembangan balita
  • Pelatihan pemberian stimulasi dengan acuan buku KIA kepada ibu dan keluarga balita
  • Pelatihan pembuatan APEK kepada ibu dan keluarga untuk pemberian stimulasi balita
  • Evaluasi oleh kader terhadap pemberian stimulasi yang dilakukan ibu dan keluarga balita

Kegiatan ini dilaksanakan pada Bulan Oktober sampai November 2016 yang  dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kader, ibu balita, dan keluarga untuk mengoptimalkan buku KIA sebagai acuan stimulasi perkembangan pada balita, sehingga kader, ibu balita, dan keluarga mampu melakukan stimulasi perkembangan dengan acuan buku KIA serta menemukan gangguan perkembangan pada balita sedini mungkin dan dapat melakukan rujukan lebih awal.